MENJAGA DAN MELESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP

Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dan melebihkan mereka di atas seluruh makhluk yang lain. Allah Azza wa Jalla menjadikan segala yang ada di langit dan bumi tunduk untuk manusia.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO?UZO�U�UZO�UZ U�UZU?U?U�U� U�UZO� U?U?US O�U�O?U�UZU�UZO�U?UZO�O?U? U?UZU�UZO� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? O�UZU�U?USO?U�O� U�U?U�U�U�U?

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. (QS. Al-Jasiyah/45: 13)
Allah Azza wa Jalla juga memilih manusia sebagai makhluk yang memakmurkan bumi ini. Firman-Nya:

U�U?U?UZ O?UZU�U�O?UZO?UZU?U?U�U� U�U?U�UZ O�U�O?O�U�O�U? U?UZO�O?U�O?UZO?U�U�UZO�UZU?U?U�U� U?U?USU�UZO�

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud/11: 61)

Al-Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa’di rahimahulah mengatakan, “Yaitu Allah menjadikan kalian sebagai pemakmurnya, memberikan kepada kalian nikmat yang tampak maupun tersembunyi, menempatkan kalian di muka bumi, hingga kalian dapat membangun, menanam, bercocok tanam sekehendak kalian dan mengambil manfaat serta kebaikannya.” (Taisir Al-Karim Al-Rahman hlm. 432)
Allah Azza wa Jalla menempatkan manusia di bumi ini dan menjadikan mereka sebagai penguasa adalah sebagai bentuk ujian. Tujuannya, untuk membedakan mana yang bagus dalam mengemban amanat dengan yang merusaknya. Allah Azza wa Jalla menjelaskan dalam firman-Nya:

U?UZU�U?U?UZ O�U�U�UZO�U?US O�UZO?UZU�UZU?U?U�U� O�UZU�O�O�U?U?UZ O�U�O?O�U�O�U? U?UZO�UZU?UZO?UZ O?UZO?U�O�UZU?U?U�U� U?UZU?U�U�UZ O?UZO?U�O�U? O?UZO�UZO�UZO�O?U? U�U?USUZO?U�U�U?U?UZU?U?U�U� U?U?US U�UZO� O?O?UZO�U?U?U�U� O?U?U�U�UZ O�UZO?U�UZU?UZ O?UZO�U?USO?U? O�U�U�O?U?U�UZO�O?U? U?UZO?U?U�U�UZU�U? U�UZO?UZU?U?U?O�U? O�UZO�U?USU�U?

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An’am/6: 165)
Sejalan dengan berlalunya waktu, betapa banyak manusia yang tidak memahami hakikat kehidupannya di bumi. Mereka tidak mengemban amanat dengan baik dalam memakmurkan bumi.
Semakin hari bumi ini tampak semakin rusak. Kerusakan tersebut bisa berupa kerusakan secara maknawi dengan menjamurnya kesyirikan, bidah, dan maksiat. Atau, bisa pula kerusakan yang nyata berupa perusakan lingkungan. Sebenarnya, bagaimanakah perhatian Islam terhadap lingkungan hidup yang kita diami ini? Adakah adab-adab yang harus kita perhatikan dalam melestarikan lingkungan? Simak dan cermati ulasan berikut ini, semoga bermanfaat.

PANDANGAN ISLAM TERHADAP LINGKUNGAN
Allah Azza wa Jalla banyak menyebutkan di dalam kitab-Nya yang mulia ayat-ayat yang berhubungan dengan lingkungan. Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Dialah pencipta dan pengatur alam lingkungan ini. Dialah yang menjaga keseimbangan lingkungan dengan pengaturan yang apik dan elok. Penciptaan langit dan bumi, bergilirnya malam dan siang adalah sedikit bukti bahwa Dia Maha Mengatur alam semesta.
Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini yang menerangkan bahwa Allah Maha Pencipta lingkungan dan pengaturnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

O�U�U�UZO�U?US O�UZO?UZU�UZ U�UZU?U?U�U? O�U�O?O�U�O�UZ U?U?O�UZO�O?U�O� U?UZO�U�O?U�UZU�UZO�O?UZ O?U?U�UZO�O?U� U?UZO?UZU�U�O?UZU�UZ U�U?U�UZ O�U�O?U�UZU�UZO�O?U? U�UZO�O?U� U?UZO?UZO�U�O�UZO�UZ O?U?U�U? U�U?U�UZ O�U�O�U�UZU�UZO�UZO�O?U? O�U?O?U�U�U�O� U�UZU?U?U�U� U?UZU�O� O?UZO�U�O?UZU�U?U?O� U�U?U�U�UZU�U? O?UZU�U�O?UZO�O?U�O� U?UZO?UZU�U�O?U?U�U� O?UZO?U�U�UZU�U?U?U�UZ

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurun-kan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah/2: 22)
Firman Allah Azza wa Jalla yang lain:

O?UZU?UZU�UZU�U� USUZU�U�O?U?O�U?U?O� O?U?U�UZU� O�U�O?U�UZU�UZO�O?U? U?UZU?U�U�UZU�U?U�U� U?UZUSU�U?UZ O?UZU�UZUSU�U�UZO�U�UZO� U?UZO?UZUSU�UZU�U�UZO�U�UZO� U?UZU�UZO� U�UZU�UZO� U�U?U�U� U?U?O�U?U?O�U? . U?UZO�U�O?O�U�O�UZ U�UZO?UZO?U�U�UZO�U�UZO� U?UZO?UZU�U�U�UZUSU�U�UZO� U?U?USU�UZO� O�UZU?UZO�O?U?USUZ U?UZO?UZU�U�O?UZO?U�U�UZO� U?U?USU�UZO� U�U?U�U� U?U?U�U?U� O?UZU?U�O�U? O?UZU�U?USO�U? . O?UZO?U�O�U?O�UZO�U� U?UZO�U?U?U�O�UZU� U�U?U?U?U�U?U� O?UZO?U�O?U? U�U?U�U?USO?U?

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). (QS. Qaf/50: 6-8)
Allah Azza wa Jalla berfirman pula:

U?UZO�U�O?O�U�O�UZ U�UZO?UZO?U�U�UZO�U�UZO� U?UZO?UZU�U�U�UZUSU�U�UZO� U?U?USU�UZO� O�UZU?UZO�O?U?USUZ U?UZO?UZU�U�O?UZO?U�U�UZO� U?U?USU�UZO� U�U?U�U� U?U?U�U?U� O?UZUSU�O?U? U�UZU?U�O?U?U?U�U? . U?UZO�UZO?UZU�U�U�UZO� U�UZU?U?U�U� U?U?USU�UZO� U�UZO?UZO�USU?O?UZ U?UZU�UZU�U� U�UZO?U�O?U?U�U� U�UZU�U? O?U?O�UZO�O?U?U�U?USU�UZ . U?UZO?U?U�U� U�U?U�U� O?UZUSU�O?U? O?U?U�O� O?U?U�U�O?UZU�UZO� O�UZO?UZO�O�U?U�U?U�U? U?UZU�UZO� U�U?U�UZO?U?U�U�U?U�U? O?U?U�O� O?U?U�UZO?UZO�U? U�UZO?U�U�U?U?U�U?

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuh-kan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS. Al-Hijr/15: 19-21)

Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran bagi manusia akan keagungan dan kekuasaan Allah yang sangat besar. Nikmat dan karunia yang tak terhingga telah Dia curahkan bagi manusia. Ayat-ayat tersebut juga mengingatkan manusia bahwa terjadinya segala sesuatu di alam semesta ini berupa pergiliran siang dan malam, adanya hewan-hewan, tumbuhan yang beraneka ragam, dan segala yang membawa manfaat bagi manusia di bumi adalah untuk mendorong manusia agar berpikir dan merenungi ciptaan-Nya. Ayat-ayat tadi mengingatkan mereka agar bersyukur dan taat kepada Rabb semesta alam bukan malah kufur. (Tafsir Al-Tabari 14/87, Tafsir Al-Qura��an Al-a�?Azim 3/426)
Allah Azza wa Jalla berfirman:
O?U?U�U�UZ U?U?US O�UZU�U�U�U? O�U�O?U�UZU�UZO�U?UZO�O?U? U?UZO�U�O?O�U�O�U? U?UZO�O�U�O?U?U�O�U?U? O�U�U�U�UZUSU�U�U? U?UZO�U�U�U�UZU�UZO�O�U? U�O?USUZO�O?U? U�O?U?U�U?US O�U�O?U�U�O?UZO�O?U?
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran/3: 190)
Berpikir dan merenungi makhluk ciptaan Allah akan membawa pengenalan terhadap keagungan dan kebesaran Allah Azza wa jalla. Hal itu akan menyadarkan manusia bahwa alam ini akan punah dan kembali kepada Rabbnya, yang kemudian Allah akan membalas dengan balasan yang setimpal. Barangsiapa memiliki tujuan seperti ini maka jiwanya akan mampu mengerem segala keinginan hati dan menjadi bersih.

MELESTARIKAN LINGKUNGAN
Lingkungan yang ada di permukaan bumi ini meliputi lingkungan air, udara, tanah yang kita diami serta tumbuhan dan hewan. Berikut ini kami paparkan sebagian bentuk perhatian Islam terhadap lingkungan di atas.
A. Air Sumber Kehidupan
Air adalah sumber kehidupan. Air memegang peranan penting dalam alam semesta ini. Allah Azza wa Jalla menyebutkan dalam firman-Nya:

O?UZU?UZU�UZU�U� USUZO�UZ O�U�U�UZO�U?USU�UZ U?UZU?UZO�U?U?O� O?UZU�U�UZ O�U�O?U�UZU�UZO�U?UZO�O?U? U?UZO�U�O?O�U�O�UZ U?UZO�U�UZO?UZO� O�UZO?U�U�U�O� U?UZU?UZO?UZU�U�U�UZO�U�U?U�UZO� U?UZO�UZO?UZU�U�U�UZO� U�U?U�UZ O�U�U�U�UZO�O?U? U?U?U�U�UZ O?UZUSU�O?U? O�UZUSU�U? O?UZU?UZU�O� USU?O�U�U�U?U�U?U?U�UZ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiyaa��/21: 30)

Al-Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata, “Air adalah sumber kehidupan, tuannya minuman, unsur terpenting bagi alam semesta, bahkan ia adalah unsur yang asasi. Sesungguhnya awan-awan itu berasal dari uapan air, dan bumi dari buihnya. Dengan air, segala sesuatu menjadi hidup.” (Zad Al-Maa��ad 4/356)
Sungguh air adalah nikmat Allah Azza wa Jalla yang sangat besar kepada para hamba-Nya. Dia menurunkan air dengan kadar tertentu untuk menjaga keseimbangan bumi dalam menerimanya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO?UZU�U�O?UZU�U�U�UZO� U�U?U�UZ O�U�O?U�UZU�UZO�O?U? U�UZO�O?U� O?U?U�UZO?UZO�U? U?UZO?UZO?U�U?UZU�U�UZO�U�U? U?U?US O�U�O?O�U�O�U? U?UZO?U?U�U�UZO� O?UZU�UZU� O�UZU�UZO�O?U? O?U?U�U? U�UZU�UZO�O?U?O�U?U?U�UZ

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi. dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya. (QS . Al-Mua��minun /23: 18)
Al-Imam Ibn Katsir rahimahullah mengatakan. “Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla menyebutkan nikmat-Nya yang tak terhingga kepada para hamba-Nya. Dia menurunkan air hujan menurut suatu ukuran yang sesuai dengan kebutuhan. tidak terlalu banyak hingga merusak bumi dan bangunan, tidak pula sedikit sehingga tidak mencukupi untuk pertanian dan cocok tanam. Bahkan Allah Azza wa Jalla mengaturnya sesuai dengan kebutuhan. untuk pengairan, minum atau untuk diambil manfaatnya.” (Tafsir Al-Qura��an Al-a�?Azim 5/470)

Perhatian Islam terhadap lingkungan air ini sangat besar, baik itu air yang ada di laut, sungai, lembah atau yang di sekitar kita. Islam melarang dengan sangat keras pencemaran atau perusakan terhadap air. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZU�O� O?U?U?U�O?U?O?U?U?O� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? O?UZO?U�O?UZ O?U?O�U�U�O�O�U?U�UZO� U?UZO�O?U�O?U?U?U�U? O�UZU?U�U?U�O� U?UZO�UZU�UZO?U�O� O?U?U�U�UZ O�UZO�U�U�UZO�UZ O�U�U�U�UZU�U? U�UZO�U?USO?U? U�U?U�UZ O�U�U�U�U?O�U�O?U?U�U?USU�UZ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. sesudah (Allah) memperbaikinya dan ber-doalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A’raf /7: 56)
Bahkan yang namanya “merusak bumi” adalah sifat yang tercela, tidak menunaikan amanat dalam me-makmurkan bumi. Allah berfirman:

U?UZO?U?O�UZO� O?UZU?UZU�U�UZU� O?UZO?UZU� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? U�U?USU?U?U�O?U?O?UZ U?U?USU�UZO� U?UZUSU?U�U�U�U?U?UZ O�U�U�O�UZO�U�O�UZ U?UZO�U�U�U�UZO?U�U�UZ U?UZO�U�U�U�UZU�U? U�O� USU?O�U?O?U�U? O�U�U�U?UZO?UZO�O?UZ

Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak. dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqarah/2: 205)

Al-Imam al-Qurtubi rahimahullah mengatakan, “Ayat ini sesuai dengan keumumannya. mencakup segala kerusakan baik di bumi maupun kerusakan terhadap harta dan agama. Dan ini adalah yang benar, insya Allah” (Al-Jamia�� li Ahkam Al-Qura��an 3/22)
Demikian pula jika kita tengok hadits-hadits Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam sangat banyak yang mengisyaratkan untuk menjaga lingkungan air dan larangan dari mengotori dan merusaknya. Di antaranya, Nabi shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

U�UZO� USUZO?U?U?U�UZU�U�UZ O?UZO�UZO?U?U?U?U�U� U?U?US O�U�U�U�UZO�O?U? O�U�O?U�UZO�O�U?U�U? O�U�U�UZO�U?US U�UZO� USUZO�U�O�U?USA� O�U?U�U�UZ USUZO?U�O?UZO?U?U�U? U?U?USU�U?

“Janganlah salah seorang di antara kalian kencing pada air yang tidak mengalir kemudian mandi di dalamnya.” (HR. Al-Bukhari: 236, Muslim: 282)
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam juga bersabda:

O�U?O?U�UZU�U?U?O� O�U�U�U�UZU�UZO�O?U?U�UZ O�U�O�U�U�UZO�O�UZO�UZ O�U�U�O?UZO�UZO�O?UZ U?U?US O�U�U�U�UZU?UZO�O�U?O?U? U?UZU�UZO�O�U?O?UZO�U? O�UZO�U?USU�U? U?UZO�U�O?U�U?U�U�U?

“Takutlah kalian dari tiga perbuatan yang terlaknat: buang hajat di saluran tempat air, di tengah jalan, dan tempat berteduhnya manusia.” (HR. Abu Dawud: 26, Ibn Majah: 328, Al-Hakim 1167, Al-Baihaqi 197. Al-Imam al-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ 2/101. “Sanadnya bagus.” Lihat pula Al-lrwaa��: 62.)

Hadits-hadits tadi menunjukkan haramnya mengotori, menajiskan, dan mencemarkan air. Ini adalah dalil umum yang masuk ke dalamnya juga larangan mengotori sumber-sumber pengairan dengan membuang sampah, limbah beracun dan sebagainya. Apalagi pencemaran semacam ini tingkat bahayanya melebihi hanya sekadar buang hajat atau mandi. Oleh karena itu, sebagian ahli ilmu menegaskan bahwa apa yang terkandung dalam hadits ini hanya sebagai peringatan akan bahayanya. Masuk dalam larangan hadits di atas segala sesuatu yang mengotori dan mencemarkan air. (Lihat Tarh al-Tasrib 2/33 karya Al-a�?Iraqi. Syarh Sahih Muslim 3/188 karya Al-Nawawi.)

B. Menghirup Udara Segar
Udara merupakan unsur terpentmg dalam kehidupan, asas kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Tidak ada satu pun makhluk hidup kecuali dia membutuhkan udara.
Al-Imam Al- Gazali mengatakan, a�?Andaikan tidak ada udara, niscaya akan binasa seluruh binatang darat. Karena,A� dengan menghirupnya akan stabil suhu badan pada segala binatang. Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menciptakan udara ini sesuai kelembutan hikmah-Nya, menciptakan pergerakannya, yang dengan itu dapat menyerap dan mebersihkan kotoran bumi. Andaikan tidak ada udara, sungguh akan kotor bumi ini dan akan binasa binatang disebabkan banyaknya kotoran dan penyakit.a�? (Al-Hikmah min Makhluqat hlm. 59)
Ketahuilah, bahwa udara yang bermanfaat adalah udara yang seperti tabiatnya, selamat dari polusi dan kotoran. Bagus dan jeleknya udara adalah penentu sehat dan sakitnya badan. (Al- Adab Al-Syara��iyyah 3/367, Tarh Al- Tasrib 8/221)
Oleh karena itu, Islam sangat menjaga keaslian udara ini. Tidak boleh udara dicemari dan dikotori. berdasarkan keumuman firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi:

U?UZU�O� O?U?U?U�O?U?O?U?U?O� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? O?UZO?U�O?UZ O?U?O�U�U�O�O�U?U�UZO�

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. (QS. Al-A’raf/7: 56)
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

U�O�UZ O�UZO�UZO�UZ U?UZU�O�UZ O�U?O�UZO�UZ

“Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh pula menimpakan bahaya.” (Hadits sahih. Lihat Jami’ ul-Ulum wa al-Hikam 2/207, al-Sahihah: 250.)
Bahkan, para ulama menegaskan bahwa sekadar memberikan bau asap yang tidak enak kepada tetangga adalah terlarang. (Ahkam al-Bi’ah hlm. 342)

C. Lingkungan di Sekitar Kita
Sungguh syariat Islam menganjurkan bagi para pemeluknya untuk selalu menjaga lingkungan di sekitarnya dari segala kotoran. Salah satu contohnya adalah menganjurkan untuk menyingkirkan gangguan dari jalan. Dari Abu Hurairah radhiyallahua�?anhu bahwasanya Nabi shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

O�U�U�O?U?USU�UZO�U�U? O?U?O�U�O?U? U?UZO?UZO?U�O?U?U?U�UZ O?UZU?U� O?U?O�U�O?U? U?UZO?U?O?U�U?U?U�UZ O?U?O?U�O?UZO�U� U?UZO?UZU?U�O�UZU�U?U�UZO� U�UZU?U�U�U? U�UZO� O?U?U�UZU�UZ O?U?U�U�UZO� O�U�U�U�UZU�U? U?UZO?UZO?U�U�UZO�U�UZO� O?U?U�UZO�O�UZO�U? O�U�U�O?UZO�UZU� O?UZU�U� O�U�O�U�UZO�U?USU�U? U?UZO�U�U�O�UZUSUZO�O?U? O?U?O?U�O?UZO�U? U�U?U�U� O�U�U�O?U?USU�UZO�U�U?

”Iman itu ada tujuh puluh tiga cabang lebih, atau enam puluh tiga cabang lebih. Yang paling afdal adalah ucapan La ilaha illallah (tiada Tuhan yang hak diibadahi selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Muslim: 35)
Lantas, tempat-tempat apa saja yang wajib dijaga kebersihannya di lingkungan sekitar kita ini?
1. Masjid
Menjaga kebersihan masjid termasuk amal kebaikan yang dianjurkan oleh syariat Islam. Dasarnya ialah firman Allah Azza wa Jalla:

U?UZO?U?O�U� O?UZU?U�UZO?U�U�UZO� U�O?O?U�O�UZO�U�U?USU�UZ U�UZU?UZO�U�UZ O�U�U�O?UZUSU�O?U? O?UZU�U� U�O� O?U?O?U�O�U?U?U� O?U?US O?UZUSU�O�U�O� U?UZO�UZU�U?U�O�U� O?UZUSU�O?U?USUZ U�U?U�O�U�UZO�O�U?U?U?USU�UZ U?UZO�U�U�U�UZO�O�U?U�U?USU�UZ U?UZO�U�O�U�U?U?U�UZO?U? O�U�O?U�U?O�U?U?O?U?

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang rukuk dan sujud.” (QS. Al-Hajj/22: 26)
Adapun dalil dari Sunah di antaranya adalah kisah seorang Arab Badui yang masuk masjid kemudian kencing di salah satu sudut masjid. Setelah dia selesai menunaikan hajatnya, Nabi shallallahu a��alaihi wa sallam menegurnya seraya berkata: “Sesungguhnya masjid ini tidak boleh sedikit pun untuk dikencingi atau dikotori. Masjid tempat untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qura��an.” (HR. Al-Bukhari: 219. Muslim: 285)
Hadits ini merupakan dalil yang sangat jelas wajibnya memuliakan masjid, menjaga dan membersihkannya dari segala kotoran dan kencing. (Fath al-Bari 1/325. Syarh Sahih Muslim 3/191)
2. Rumah
Rumah adalah hunian makhluk hidup. Bahkan ia termasuk kebutuhan primer bagi manusia. Sungguh para salaf sangat memperhatikan kebersihan rumahnya. Di antaranya adalah apa yang dicontohkan oleh Sahabat yang mulia ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu a�?anhu, yang selalu memerintahkan untuk menyapu rumah. Hingga apa-bila dicari satu kotoran atau sedikit debu saja, niscaya tidak akan didapati. (Musannaf Ibn Abi Syaibah 6/161)
3. Jalan dan Tempat Berkumpulnya Manusia
Demikian pula jalan-jalan dan tempat keramaian berkumpulnya manusia, kita dilarang untuk mengotori atau membuat gangguan di dalamnya dengan segala sesuatu yang membuat tidak enak orang yang lewat atau melihatnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO�U�U�UZO�U?USU�UZ USU?O�U�O�U?U?U�UZ O�U�U�U�U?O�U�U�U?U�U?USU�UZ U?UZO�U�U�U�U?O�U�U�U?U�UZO�O?U? O?U?O?UZUSU�O�U? U�UZO� O�U?U�O?UZO?UZO?U?U?O� U?UZU�UZO?U? O�O�U�O?UZU�UZU�U?U?O� O?U?U�U�O?UZO�U�U�O� U?UZO?U?O�U�U�U�O� U�U?O?U?USU�U�O�

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. al-Ahzab/33: 58)
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:
O�O?U�UZU�U?U?O� O�U�U�U�UZO?U�UZO�U�UZUSU�U�U? U�UZO�U�U?U?O� U?UZU�UZO� O�U�U�U�UZO?U�UZO�U�UZO�U�U? USUZO� O�UZO?U?U?U�UZ O�U�U�U�UZU�U? U�UZO�U�UZ O�U�U�UZO�U?US USUZO?UZO�UZU�U�UZU� U?U?US O�UZO�U?USU�U? O�U�U�U�UZO�O?U? O?UZU?U� U?U?US O?U?U�U�U?U�U?U�U�
“Jauhilah oleh kalian dua perkara yang menyebabkan laknat.” “Apakah itu, wahai Rasulullah? tanya para Sahabat. Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam, menjawab, “Yaitu orang yang buang hajat di jalan yang dilalui manusia atau di tempat berteduh mereka.” (HR. Muslim: 269)
D. Mencintai Tumbuhan
Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan dalam banyak ayat-Nya tentang tumbuhan dan tanaman. Hal itu karena pentingnya tumbuhan dan sangat besarnya kebutuhan manusia terhadap tumbuhan. Islam memandang bahwa tumbuhan adalah sesuatu yang baik dan indah. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO?UZO�UZU� O�U�O?O�U�O�UZ U�UZO�U�U?O?UZO�U� U?UZO?U?O�UZO� O?UZU�U�O?UZU�U�U�UZO� O?UZU�UZUSU�U�UZO� O�U�U�U�UZO�O?UZ O�U�U�O?UZO?U�UZO?U� U?UZO�UZO?UZO?U� U?UZO?UZU�U�O?UZO?UZO?U� U�U?U�U� U?U?U�U?U� O?UZU?U�O�U? O?UZU�U?USO�U?

Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al-Hajj /22: 5)
Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

U�UZU�U� U�UZO�U�UZ O?U?O?U�O�UZO�U�UZ O�U�U�U�UZU�U? O�U�U�O?UZO?U?USU�U? U?UZO?U?O�UZU�U�O?U?U�U? O?U?O�U?O?UZO?U� U�UZU�U? U�UZO�U�U�UZO�U? U?U?US O�U�U�O�UZU�U�UZO�U?

“Barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallah al-‘Azim wa Bihamdihia�� akan ditanamkan baginya sebuah pohon di Surga.” (HR. al-Tirmidzi: 3464, al-Nasaa��i dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 827, Abu Yaa��la; 2233, Ibn Hibban: 2335, Al-Hakim 1/501, dll. Dinilai sahih oleh Al-Syaikh Al-Albani dalam Al-Sahihah no. 64.)
Sungguh Islam sangat perhatian terhadap tumbuhan. Islam menganjurkan untuk memperbanyak menanamnya. Rasulullah shallallahu a��alaihi wa sallam bersabda:

U�UZO� U�U?U�U� U�U?O?U�U�U?U�U? USUZO?U�O�U?O?U? O?UZO�U�O?U�O� O?UZU?U� USUZO?U�O�UZO?U? O?UZO�U�O?U�O� U?UZUSUZO?U�U?U?U�U? U�U?U�U�U�U? O�UZUSU�O�U? O?UZU?U� O?U?U�U�O?UZO�U�U? O?UZU?U� O?UZU�U?USU�UZO�U? O?U?U�U�UZO� U?UZO�U�UZ U�UZU�U? O?U?U�U? O�UZO?UZU�UZO�U?

“Tidaklah seorang muslim menanam atau bercocok tanam, kemudian tanamannya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang ternak, melainkan (akan dinilai oleh Allah) sebagai sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari: 2152, Muslim: 2904)
Di dalam hadits ini terdapat keutamaan menanam dan bercocok tanam serta anjuran untuk memakmurkan bumi. Hadits ini juga sebagai bantahan kepada orang yang berpendapat tidak bolehnya menanam tanaman, seperti perbuatan orang yang pura-pura zuhud. Adapun hadits yang mengisyaratkan larangan bercocok tanam dibawa pada keadaan apabila menanam dan bercocok tanamnya melampaui batas dan lupa dari perkara agama. (Fath al-Bari 5/401)

Al-Syaikh al-Albani rahimahullah mengomentari. “Sungguh tidak ada yang paling tegas dalam menunjukkan anjuran memakmurkan bumi dan mengembangkannya daripada hadits ini. Karena di dalamnya terdapat anjuran yang sangat besar untuk memanfaatkan akhir kesempatan hidup di medan pertanian dengan meraberikan manfaat kepada manusia setelah matinya. Dengan itu pahalanya akan terus mengalir dan ditulis sebagai sedekah sampai hari Kiamat.” (Al-Sahihah 1/38)

TEBANG POHON SEMBARANGAN?
Allah Azza wa Jalla melarang kita membuat kerusakan di bumi. Allah Azza wa Jalla berfirman:

U?UZO?U?O�UZO� O?UZU?UZU�U�UZU� O?UZO?UZU� U?U?US O�U�O?O�U�O�U? U�U?USU?U?U�O?U?O?UZ U?U?USU�UZO� U?UZUSU?U�U�U�U?U?UZ O�U�U�O�UZO�U�O�UZ U?UZO�U�U�U�UZO?U�U�UZ U?UZO�U�U�U�UZU�U? U�O� USU?O�U?O?U�U? O�U�U�U?UZO?UZO�O?UZ

Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. al-Baqarah/2: 205)
Sebagian ahli tafsir mengatakan tentang firman-Nya ”dan merusak tanaman-tanaman’ adalah dengan membakar tanaman dan pohon-pohon yang berbuah yang dimiliki oleh kaum muslimin. Inilah yang dipilih oleh al-Imam Ibn Jarir dalam kitab tafsirnya 2/317 dan ia berkata, “Ini adalah yang lebih mendekati dalam penafsiran makna ayat.” (Lihat pula al-Jamia�� li Ahkam al-Qura��an 3/18. Tafsir Ibn Katsir 1/247.)

Demikianlah sedikit yang dapat kami kumpulkan tentang anjuran dan keutamaan menjaga lingkungan.

Wallahu A’lam.

Sumber: dari Majalah al-Furqon No.143, Ed.7 1435H

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *